Mahasiswa Zaman Sekarang
Mengamati mahasiswa zaman sekarang, tak ubahnya
seperti boyband ataupun preman yang sudah hilang ke”MAHA”annya. Kampus sudah
menjadi ajang fashion show ataupun kumpulan pelawak, kumpulan pemabuk maupun
penjudi. Apakah mahasiswa yang seperti ini layak untuk menjadi penerus bangsa
kita? Apakah mereka layak menjadi penentu nasib ratusan juta jiwa rakyat
Indonesia?
Klasifikasi mahasiswa zaman sekarang:
- Para Mahasiswa yang tampil sebagai demonstran. Mereka hanya mencari sensasi, memperlihatkan ketajaman gigi agar dirinya dapat dikenal sebagai mahasiswa yang sok tangguh, mahasiswa yang menjadi follower atau dalam bahasa Sunda “pipilueun” untuk bolos masuk kuliah. Para mahasiswa seperti ini tidak benar-benar memedulikan rakyat maupun negaranya melainkan mahasiswa seperti inilah yang biasanya melakukan aksi-aksi anarkis maupun terlibat dalam bentrok dengan aparat keamanan pada saat demonstrasi.
- Para mahasiswa yang tidak memedulikan politik di sekitarnya. Mereka hanya berusaha untuk belajar dengan baik, yang penting dapat IP 4 malahan kalau bisa dapat 5, hahahaha! Mereka tidak memedulikan bagaimana nasib para buruh, rakyat yang merengek naiknya BBM, ataupun korupsi-korupsi yang dilakukan pemerintahnya.
- Para mahasiswa yang hanya nongkrong, mejeng, bahkan kelakuannya yang tak layak dikatakan sebagai mahasiswa. Mereka berlagak seperti preman yang membudayakan mabuk-mabukan, judi, bahkan sex sebelum pada waktunya (kumpul kebo).
- Para mahasiswa yang sok sibuk, padahal hanya menjual proposal dan menjual nama kampus untuk kebutuhan pribadi, sementara kegiatannya tidak rampung. Mereka mirip seperti pemalak yang tak berpendidikan.
- Para mahasiswa yang benar-benar memerhatikan dan memedulikan nasib bangsa. Mahasiswa yang memikirkan apa yang dapat dilakukan olehnya untuk bangsa ini dan tidak melupakan kewajibannya sebagai insan akademis. Mereka yang bisa menyuarakan keadilan, berdemonstrasi dengan tenang dan mengikuti aturan, mengikuti perdebatan-perdebatan maupun diskusi untuk memajukan bangsa ini.
- Eh, lebih parahnya lagi, yang menjadi minoritas adalah mahasiswa golongan ke-5. Jika ini dibiarkan, maka akan melahirkan sarjana-sarjana seperti sekarang ini. Sarjana para pedebah, para sarjana yang pemalu dan memalukan. (By. Jainal sidik)


