Saturday, February 7, 2015

Puisi - Harap Sua

 HARAP SUA

http://fikrihmd.blogspot.com/


Kedua kaki sudah siap untuk melangkah pergi. Kubungkus ekspektasi dengan sangat rapi, hingga mereka tak akan bisa terbang yang terlalu tinggi. Degup resah yang akhir-akhir ini sempat tak terdengar lagi, perlahan tampak tanpa kendali. Entah apa yang akan semesta suguhkan; sebuah pertemuan atau hanya semburat kekecewaan.

Sabar, hati. Aku berujar pada pantulan cermin sendiri—seolah dengan mengucapnya mampu redakan dentuman debar. Ada seorang anak kecil di dalam aku yang sudah tak sabar—seolah bertemu denganmu sama manisnya seperti gula-gula ukuran besar. Ada seorang dewasa di dalam aku yang tak henti mengingatkan—hati-hati, terkadang keinginan hanya mampu terwujud dalam khayalan. Berharap kau di seberang sana resah akibat rasa yang sama. Berharap kamu di seberang sana bertanya-tanya perihal ketidakpastian yang sama. Apakah kita bertemu memang untuk bersatu? Ataukah kita bertemu hanya agar luka mendapat jalannya yang baru?

Sepenuh hati aku mengumpulkan buruknya kemungkinan agar tak terbiasa dengan khayalan tanpa tanda-tanda kenyataan. Pada sepetak lantai di mana kita pernah menjejak, aku berharap di titik yang sama akan mendengar derap langkahmu semakin mendekat. Di selembar angan-angan kosong aku mengajari hati bagaimana caranya agar tidak perlu berdetak terlalu cepat. Tapi, tampaknya akan percuma. Sebab kau saat ini sudah berada di depan mata. Tanpa mulut yang terbuka, lambaian tangan di udara, kita bertegur sapa secara maya. Tak apa semesta, aku sudah cukup bahagia.

Memang lebih baik berharap tak terlalu tinggi, agar ketika semesta memberi yang berlebih, yang muncul hanya bahagia di hati. Maka ketika mata menatap mata, ada yang jatuh tak terduga—hati kita. Rasa yang semula kukira saling menolak, kini ternyata saling memihak. Tak sia-sia setiap lafal doa. Sepertinya benar, pada pintu di dadamu, mereka melabuhkan asa.

Puisi - Teka Teki Kita

TEKA TEKI KITA


http://fikrihmd.blogspot.com/p/blog-page_6.html


UNTUK KITA YANG KADANG SELALU LUPA MAKNA BERSAMA....
Entah apa rencana Tuhan, mempertemukan kita yang berbeda, kemudian diberi kesempatan untuk bersama. Sebab yang kutahu, kebetulan itu tak pernah ada. Maksud tersembunyi apa yang kiranya Tuhan titipkan pada semesta?

Menjadi yang berbeda pada kenyataannya tak semudah yang mereka katakan. Selalu ada ego yang harus ditahan. Selalu ada toleransi yang berharap tak pernah dipaksakan. Selalu ada sakit terselip pada setiap pertanyaan dari yang meragukan. Namun, seringkali semua bisa dikalahkan, sebab selalu ada KEBERSAMAAN yang memaksa hati agar tetap mempertahankan.

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Semua orang juga tahu itu. Meski sedikit dari mereka yang benar-benar mengetahui bimbangnya hati ini. Aku dan kita ingin terus bertahan, namun keyakinan kita tak pernah bisa sejalan. Aku dan kita ingin terus membina hubungan, namun restu dari semuanya kadang telalu sulit didapatkan.



 
Mengapa kiranya hati tak pandai memilih tujuan, ketika pada akhirnya, kebersamaan hanya bisa setengah jalan?

Sementara pada setiap pertemuan, ada air mata yang ku tabung diam-diam. Ditabung sedikit demi sedikit, sampai tersenyum pun terkadang rasanya sakit. Aku hanya takut, di suatu hari di masa depan, hanya kenangan ini saja yang ku punya dalam ingatan, sedangkan kalian tidak ada dalam genggaman.

Sebab itu, kunikmati setiap kehadiran, ku resapi setiap celotehan, ku hitung baik-baik setiap kecupan. Aku tak pernah ingin kita berakhir, namun sayangnya, akupun tak punya jalan keluar ketika perpisahan kelak hadir.

Aku mencintai kalian, mencintai kita. Akupun mencintai Tuhan, keluarga, serta diriku sendiri. Pada akhirnya, semoga Tuhan memberi kita kesempatan seluas-luasnya untuk terus bersama, tanpa sedikit pun mengundang perpisahan diantaranya. Entah bagaimanapun caranya.

Dan jika memang harus berpisah, semoga saat itu hati kita berdua sudah lebih dari siap untuk menghadapinya. Semoga saja.



"jika Tuhan mampu membuat kebetulan-kebetulan yang berujung pada pertemuan, maka Tuhan pasti juga mampu membuat keajaiban-keajaiban yang kelak membuat kita tak bertemu di titik perpisahan. bukankah begitu?".

Puisi - Terbiasa sendiri

 TERBIASA SENDIRI

fikrihmd.blogspot.com



Kepada sendiri yang telah sekian lama menemani, masih sanggupkah meski tak banyak lagi asupan peduli? Ketika sepasang mata sibuk disuguhkan berpasang yang beriringan, masih inginkah bertahan?


Tak akan sering kau temui ucapan di awal hari, maupun menjelang malam. Tak akan kau rasakan pengisi di sela-sela jemari, walaupun di kala ingin. Dan tak akan ada juga hati yang bisa membuatmu sedih hingga sakit—terjatuh. Tak akan ada, sebab teman seperjalananmu hanyalah dirimu sendiri.

Di kanan-kiri, semua berkata agar sesegera mungkin membuka hati. Namun percuma hati dibuka selebar-lebarnya, namun yang mengetuk pun hampir tak ku hiraukan suaranya. Barangkali, inilah risiko dari kata ‘terbiasa’. Terbiasa sendiri itu baik, tapi terbiasa dengan kesendirian? Tak pernah baik.

Sesuatu yang sudah lama dibiarkan kosong, kini seakan terlalu hambar untuk diisi. Aku masih gagal menemukan potongan hati yang tepat agar kurasa aku lengkap. Aku masih gagal menghapus anggapan bahwa cinta yang kelak datang, hanya bertugas untuk membuat luka semakin lapang. Aku masih gagal memaafkan sesuatu di masa lalu yang kita sebut sebagai perjuangan—ketika aku kamu tinggal bertahan sendirian.

Tak pernah aku berniat menyesali apa-apa. Sebab menyesal pun percuma, bukan? Memangnya bisa membuatku merasa utuh seperti sedia kala? Aku tahu jawabannya hanya ‘tidak’. Justru sebaiknya aku biasa saja, sebab bahagia yang berlimpah-limpah tak perlu untuk kubagi. Semestinya aku syukuri saja, ketika senyuman tak lagi setengah-setengah. Meski kadang ada rasa rindu untuk dirindukan, ada keinginan untuk diinginkan. Namun, mungkin memang belum pada saatnya, kesendirianku belum sampai akhirnya. Yang aku percaya, separuh bagianku akan sampai bertepatan dengan waktu. Yang aku yakini, pelengkap hari-hariku tak akan dibiarkan tersasar begitu lama ketika sedang menuju.

Barangkali inilah waktunya aku belajar bersabar. Bahwa detik-detik kesendirian ini kelak terbayar lunas oleh bahagia yang sepadan. Aku tahu Tuhan selalu mendengar doa-doa, Dia hanya butuh waktu yang tepat untuk mengabulkannya. Yang aku yakini, bagaimanapun juga, rencana Tuhan selalu lebih indah daripada rencana terindah yang kutulis sendiri. Yang aku percaya, untuk mendapatkan yang terbaik bukanlah dengan mencari; melainkan menjadi yang terbaik. Kesendirian ini bagai waktu luang bagi hatiku membangun dirinya sendiri, agar layak mendapatkan kamu—yang terbaik dari Tuhan untukku.

Tunggu aku di masa mendatang, ya. Mari bersepakat menjatuhkan hati agar limbung bersama-sama. Mari bersepakat membangun cinta yang baik dan dewasa.


by : (E.K)

Puisi - Malam Dan Cahaya

"MALAM DAN CAHAYA"

Puisi


Malam mencintai cahaya yang selalu membawa kehangatan, Namun malam tidak paham bagaimana caranya agar dapat merebut hati cahaya. Malam meminta bulan menemaninya agar saat bertemu cahaya ada sedikit hiasan yang mampu menampakkan malam, Namun bulan tidak mampu membuat malam berarti, ia langsung hilang seketika saat cahaya tiba, menyisakan bulan yang enggan hilang...

Kemudian malam meminta bantuan planet, kilaunya menimbulkan beberapa titik indah, Namun saat cahaya tiba ternyata kilau planet yang tersisa hanya bintang kejora yang sesekali tampak. Malam kemudian memohon kepada bintang-bintang untuk menemaninya, kilaunya gemerlap, menambah semarak malam, menghilangkan kelam. Namun sayangnya cahaya selalu hadir tiba-tiba, dan tanpa aba-aba malam kembali hilang seketika, menyisakan pendar bintang yang redup di angkasa. Malam kemudian pergi, ia mendatangi matahari agar datang dan pergi tidak buru-buru sekali saja supaya malam dapat menampakkan diri dihadapan cahaya. Matahari menyanggupinya...

Benar rupanya, hari itu saat pergantian hari, matahari hadir dan pergi pelan-pelan. Malam tampak, cahaya gelap keemasan itu mampu membuat cahaya melihatnya...


"Aku adalah malam, temanku bulan, bintang dan makhluk berkilau lainnya. Aku mencintaimu cahaya." kata malam..


"Aku adalah cahaya, hadirku saat pagi hingga sore menjelang. Temanku hanya matahari. Bagaimana mungkin kamu mencintaiku, kamu tahu benar apa resiko jika kita bersama bukan?" Cahaya menjawab.


"Aku tahu, mungkin aku akan lenyap karena pendarmu yang begitu benderang. Tapi tak mengapa, aku siap untuk mencintai dan lenyap olehmu."


"Tidak mungkin malam, jika kita bersama kita hanya akan saling memakan. Bukankah cinta sebaiknya bertumbuh kembang dan saling mendamaikan?"


"Tapi cahaya… menyaksikanmu tanpa dapat memilikimu itu menyiksa, aku bahkan sudah lenyap saat hanya mampu melihat tapi tidak bersama. Jika aku harus lenyap dalam cinta maka ijinkan aku melebur denganmu dan tiada."


"Tidak ada cinta yang akan saling melenyapkan malam, itu hanya akan menyimpulkan luka bagi salah satu diantara kita. Aku minta, relakan segalanya. Kita tetap akan bertemu saat pergantian hari tiba, tapi kita tercipta bukan untuk bersama. Sama bukan berarti harus bersama bukan? Berdampingan bukan berarti harus bergandengan tangan bukan?"


Matahari iba, ia buru-buru menghilang. Cahaya hilang. Malam kembali kelam, bersama bintang dan bulan dan planet yang sesekali berkilau. Sejak itu, matahari berjanji untuk selalu hadir dan hilang pelan-pelan agar cahaya dan malam dapat saling berdampingan, menghadirkan warna keemasan yang indahnya tidak tergantikan.


Fajar...Senja...


Benar rupanya, berdampingan tidak selalu bergenggaman tangan.....

by:  (E.K)

Puisi - Asa Tertahan Keadaan

"ASA TERTAHAN KEADAAN"




"Jika cinta itu berasal dari Tuhan, mengapa ada sebutan “Cinta Terlarang?" Bukankah Dialah Sang Cinta itu sendiri? Apakah karena begitu berkuasa-Nya, Dia sanggup melarang Dirinya sendiri selaku Tuhan para manusia? Jika ada cinta terlarang. lalu apakah ada Tuhan yang lain, seperti tuhan yang terlarang?"


Sebenarnya keringat dan air mata telah berkali-kali tumpah, ada sisa-sisanya mengering dan mengerak di pelupuk mata atau puing-puing luka yang tertinggal serupa tunggul-tunggul kayu yang bermunculan setelah banjir surut. Aku dan kau mungkin tahu ini bukan keinginan yang tak tertolak ini hanya tentang aku yang tak mampu mengusir dia demimu. Dia ada, di dada, ya di sini, ku tunjuk dadaku....


Lalu bagaimana aku memberitahumu tentangnya? Meski mati, pusaranya ada di sini, ku tunjuk kepalaku. Lalu di tengah malam dia sering terbangun, membangunkanku mengajakku terbang ke awang-awang tanpa puncak. Kau dimana? aku mencarimu selama ini. Bahkan, Pelukmu aku telah lupa hangatnya. Ciummu telah tergantikan bekasnya, rindumu ternyata tak bisa membumihanguskan hadirnya...

(E.K)

About

                          Tentang

blog ini  saya buat untuk menyajikan informasi untuk semua kalangan (lintas usia kecuali balita ).Sebagian dari informasi-informasi yang disuguhkan di situs ini tentunya menyampaikan dari berbagai sumber yang saya satukan menjadi sebuah konten sebagai persembahan blog ini untuk para pengunjung. Saya selalu berusaha untuk menyajikan informasi seakurat mungkin, akantetapi saya tidak dapat menjamin kebenaran dan keakuratan informasi yang saya sajikan di blog ini.

Informasi - Informasi  yang saya sajikan di blog ini, tujuannya tidak lain hanya sekedar shering tentang ilmu pengetahuan seperti karya karya tulis ilmiah,Puisi, kata Kata, Artikel dan lain sebagainya yang memang tadinya berawal dari tumpukan folder tugas tugas kuliah saya sendiri yang memang ingin sekali saya sher terhadap publik untuk sekedar berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan.