TERBIASA SENDIRI
Kepada sendiri yang telah sekian lama menemani, masih sanggupkah meski tak banyak lagi asupan peduli? Ketika sepasang mata sibuk disuguhkan berpasang yang beriringan, masih inginkah bertahan?
Tak akan sering kau temui ucapan di awal hari, maupun menjelang malam. Tak akan kau rasakan pengisi di sela-sela jemari, walaupun di kala ingin. Dan tak akan ada juga hati yang bisa membuatmu sedih hingga sakit—terjatuh. Tak akan ada, sebab teman seperjalananmu hanyalah dirimu sendiri.
Di kanan-kiri, semua berkata agar sesegera mungkin membuka hati. Namun percuma hati dibuka selebar-lebarnya, namun yang mengetuk pun hampir tak ku hiraukan suaranya. Barangkali, inilah risiko dari kata ‘terbiasa’. Terbiasa sendiri itu baik, tapi terbiasa dengan kesendirian? Tak pernah baik.
Sesuatu yang sudah lama dibiarkan kosong, kini seakan terlalu hambar untuk diisi. Aku masih gagal menemukan potongan hati yang tepat agar kurasa aku lengkap. Aku masih gagal menghapus anggapan bahwa cinta yang kelak datang, hanya bertugas untuk membuat luka semakin lapang. Aku masih gagal memaafkan sesuatu di masa lalu yang kita sebut sebagai perjuangan—ketika aku kamu tinggal bertahan sendirian.
Tak pernah aku berniat menyesali apa-apa. Sebab menyesal pun percuma, bukan? Memangnya bisa membuatku merasa utuh seperti sedia kala? Aku tahu jawabannya hanya ‘tidak’. Justru sebaiknya aku biasa saja, sebab bahagia yang berlimpah-limpah tak perlu untuk kubagi. Semestinya aku syukuri saja, ketika senyuman tak lagi setengah-setengah. Meski kadang ada rasa rindu untuk dirindukan, ada keinginan untuk diinginkan. Namun, mungkin memang belum pada saatnya, kesendirianku belum sampai akhirnya. Yang aku percaya, separuh bagianku akan sampai bertepatan dengan waktu. Yang aku yakini, pelengkap hari-hariku tak akan dibiarkan tersasar begitu lama ketika sedang menuju.
Barangkali inilah waktunya aku belajar bersabar. Bahwa detik-detik kesendirian ini kelak terbayar lunas oleh bahagia yang sepadan. Aku tahu Tuhan selalu mendengar doa-doa, Dia hanya butuh waktu yang tepat untuk mengabulkannya. Yang aku yakini, bagaimanapun juga, rencana Tuhan selalu lebih indah daripada rencana terindah yang kutulis sendiri. Yang aku percaya, untuk mendapatkan yang terbaik bukanlah dengan mencari; melainkan menjadi yang terbaik. Kesendirian ini bagai waktu luang bagi hatiku membangun dirinya sendiri, agar layak mendapatkan kamu—yang terbaik dari Tuhan untukku.
Tunggu aku di masa mendatang, ya. Mari bersepakat menjatuhkan hati agar limbung bersama-sama. Mari bersepakat membangun cinta yang baik dan dewasa.
by : (E.K)
Tak akan sering kau temui ucapan di awal hari, maupun menjelang malam. Tak akan kau rasakan pengisi di sela-sela jemari, walaupun di kala ingin. Dan tak akan ada juga hati yang bisa membuatmu sedih hingga sakit—terjatuh. Tak akan ada, sebab teman seperjalananmu hanyalah dirimu sendiri.
Di kanan-kiri, semua berkata agar sesegera mungkin membuka hati. Namun percuma hati dibuka selebar-lebarnya, namun yang mengetuk pun hampir tak ku hiraukan suaranya. Barangkali, inilah risiko dari kata ‘terbiasa’. Terbiasa sendiri itu baik, tapi terbiasa dengan kesendirian? Tak pernah baik.
Sesuatu yang sudah lama dibiarkan kosong, kini seakan terlalu hambar untuk diisi. Aku masih gagal menemukan potongan hati yang tepat agar kurasa aku lengkap. Aku masih gagal menghapus anggapan bahwa cinta yang kelak datang, hanya bertugas untuk membuat luka semakin lapang. Aku masih gagal memaafkan sesuatu di masa lalu yang kita sebut sebagai perjuangan—ketika aku kamu tinggal bertahan sendirian.
Tak pernah aku berniat menyesali apa-apa. Sebab menyesal pun percuma, bukan? Memangnya bisa membuatku merasa utuh seperti sedia kala? Aku tahu jawabannya hanya ‘tidak’. Justru sebaiknya aku biasa saja, sebab bahagia yang berlimpah-limpah tak perlu untuk kubagi. Semestinya aku syukuri saja, ketika senyuman tak lagi setengah-setengah. Meski kadang ada rasa rindu untuk dirindukan, ada keinginan untuk diinginkan. Namun, mungkin memang belum pada saatnya, kesendirianku belum sampai akhirnya. Yang aku percaya, separuh bagianku akan sampai bertepatan dengan waktu. Yang aku yakini, pelengkap hari-hariku tak akan dibiarkan tersasar begitu lama ketika sedang menuju.
Barangkali inilah waktunya aku belajar bersabar. Bahwa detik-detik kesendirian ini kelak terbayar lunas oleh bahagia yang sepadan. Aku tahu Tuhan selalu mendengar doa-doa, Dia hanya butuh waktu yang tepat untuk mengabulkannya. Yang aku yakini, bagaimanapun juga, rencana Tuhan selalu lebih indah daripada rencana terindah yang kutulis sendiri. Yang aku percaya, untuk mendapatkan yang terbaik bukanlah dengan mencari; melainkan menjadi yang terbaik. Kesendirian ini bagai waktu luang bagi hatiku membangun dirinya sendiri, agar layak mendapatkan kamu—yang terbaik dari Tuhan untukku.
Tunggu aku di masa mendatang, ya. Mari bersepakat menjatuhkan hati agar limbung bersama-sama. Mari bersepakat membangun cinta yang baik dan dewasa.
by : (E.K)

No comments:
Post a Comment