Saturday, February 7, 2015

Puisi - Malam Dan Cahaya

"MALAM DAN CAHAYA"

Puisi


Malam mencintai cahaya yang selalu membawa kehangatan, Namun malam tidak paham bagaimana caranya agar dapat merebut hati cahaya. Malam meminta bulan menemaninya agar saat bertemu cahaya ada sedikit hiasan yang mampu menampakkan malam, Namun bulan tidak mampu membuat malam berarti, ia langsung hilang seketika saat cahaya tiba, menyisakan bulan yang enggan hilang...

Kemudian malam meminta bantuan planet, kilaunya menimbulkan beberapa titik indah, Namun saat cahaya tiba ternyata kilau planet yang tersisa hanya bintang kejora yang sesekali tampak. Malam kemudian memohon kepada bintang-bintang untuk menemaninya, kilaunya gemerlap, menambah semarak malam, menghilangkan kelam. Namun sayangnya cahaya selalu hadir tiba-tiba, dan tanpa aba-aba malam kembali hilang seketika, menyisakan pendar bintang yang redup di angkasa. Malam kemudian pergi, ia mendatangi matahari agar datang dan pergi tidak buru-buru sekali saja supaya malam dapat menampakkan diri dihadapan cahaya. Matahari menyanggupinya...

Benar rupanya, hari itu saat pergantian hari, matahari hadir dan pergi pelan-pelan. Malam tampak, cahaya gelap keemasan itu mampu membuat cahaya melihatnya...


"Aku adalah malam, temanku bulan, bintang dan makhluk berkilau lainnya. Aku mencintaimu cahaya." kata malam..


"Aku adalah cahaya, hadirku saat pagi hingga sore menjelang. Temanku hanya matahari. Bagaimana mungkin kamu mencintaiku, kamu tahu benar apa resiko jika kita bersama bukan?" Cahaya menjawab.


"Aku tahu, mungkin aku akan lenyap karena pendarmu yang begitu benderang. Tapi tak mengapa, aku siap untuk mencintai dan lenyap olehmu."


"Tidak mungkin malam, jika kita bersama kita hanya akan saling memakan. Bukankah cinta sebaiknya bertumbuh kembang dan saling mendamaikan?"


"Tapi cahaya… menyaksikanmu tanpa dapat memilikimu itu menyiksa, aku bahkan sudah lenyap saat hanya mampu melihat tapi tidak bersama. Jika aku harus lenyap dalam cinta maka ijinkan aku melebur denganmu dan tiada."


"Tidak ada cinta yang akan saling melenyapkan malam, itu hanya akan menyimpulkan luka bagi salah satu diantara kita. Aku minta, relakan segalanya. Kita tetap akan bertemu saat pergantian hari tiba, tapi kita tercipta bukan untuk bersama. Sama bukan berarti harus bersama bukan? Berdampingan bukan berarti harus bergandengan tangan bukan?"


Matahari iba, ia buru-buru menghilang. Cahaya hilang. Malam kembali kelam, bersama bintang dan bulan dan planet yang sesekali berkilau. Sejak itu, matahari berjanji untuk selalu hadir dan hilang pelan-pelan agar cahaya dan malam dapat saling berdampingan, menghadirkan warna keemasan yang indahnya tidak tergantikan.


Fajar...Senja...


Benar rupanya, berdampingan tidak selalu bergenggaman tangan.....

by:  (E.K)

No comments:

Post a Comment