Sunday, February 8, 2015

Titik Akhir Sebuah Cerita

 TITIK AKHIR SEBUAH CERITA


Di balik suatu temu ada rahasia semesta dalam andil menyatukan kita. Tapi untuk menjadi satu, ada dua yang harus melebur dari kekerasan hati yang masih belum mau membaur. Di situlah kita terbentur dengan kemauan kita yang masih simpang siur melewati batas suatu jalur. Tak ada garis yang bisa mendamaikan inginku dan inginmu. Entah siapa yang terlalu meninggi dengan ego tanpa memikirkan nasib hati. Dan entah siapa korban di balik berakhirnya cerita ini?

Di satu sisi, ada aku dan ketetapanku. Ingin jadikan kita yang tak hanya cerita biasa, namun cerita sepanjang masa. Di sisi lain, ada kamu, juga dengan ketetapanmu. Membiarkan dirimu ikuti alur, sebuah arus rasa yang tak menentu ke mana hendak menuju. Mulanya, kita sejalan, kita tahu ke mana langkah kaki mengarah. Beberapa persimpangan dilewati, beberapa keputusan besar diambil; tak jarang mengorbankan ego hati. Dan kini, sampailah kita pada titik ini. Persimpangan yang lain, tanda tanya besar yang lain.

Seperti sudah lelah mengalah, kita tak mampu bersepakat untuk memilih arah. Kita seperti harus memilih jalan tengah; berpisah. Kemudian kita menyatukan beragam pikiran dari berbagai bagian. Menyuarakan apa yang selama ini sudah menjadi pilihan. Ada beberapa hal yang sudah mengalami perubahan, dan kita tak lagi sedang membawa kecocokan yang pernah dibanggakan. Kesamaan-kesamaan yang pernah ada ternyata tak bisa untuk saling beriringan bersama. Ada yang berbeda dari kita, lalu entah siapa yang sudah menyadarinya sejak lama. Sebenarnya aku ingin, terlepas dari semua mimpi yang tak lagi sama, aku mau melewatinya lagi, menyatukan perca mimpi agar jadi seutuhnya ‘kita’ lagi. Tapi tidak pernah kau ‘iya’kan. Bahkan menyuarakan asa saja tidak kau izinkan.

Sebenarnya kau pikir kau ini siapa? Berani menggenggam, lalu semudah itu melepaskan, hilang entah jadi angin atau udara.

Bukannya kamu yang dulu berkata “jangan lepaskan genggaman”?

Bukannya kamu yang melahirkan angan-angan dan menghidupkan setiap harap yang berterbangan? Tapi mengapa kamu sendiri yang menjatuhkannya jadi kepingan-kepingan kekecewaan yang berserakan?

Keputusan ini nyaris berbentuk keputusasaan. Apakah ‘sendiri’ merupakan takdir yang harus kita nikmati?

Kukira kamu menganggapku cukup berarti, maka kupertahankan ikatan kita setengah mati.

Ternyata, sebuah janji untuk melewati segalanya bersama, bagimu hanyalah sekadar kata. Sementara aku terlanjur mengukir angan kita satu per satu, dari ucapanmu kala itu. Cinta kita baik-baik saja, katamu sembari menggenggam kepalan tanganku. Namun jurang yang kini menghampiri kita, meninggalkan bibirmu bisu seketika. Kemudian masing-masing kita harus meninggalkan impian-impian yang sempat terpahat, dengan langkah yang kurasa semakin berat.

Pada genggaman tanganmu, aku pernah memercayakan masa depanku. Yang kini harus segera kutata kembali supaya sebisa mungkin serupa baru. Ada titik yang semestinya kutinggalkan, sementara aku masih diharuskan untuk menanggung kecewanya sebuah perasaan. Meski tidak sepenuhnya bisa melupakan, seperti kamu yang tidak semudah itu menyamakan kembali tujuan agar sama seperti pada permulaan.

Aku sedikit penasaran, apa masih ada kita yang kau imbuhi harapan?

Jika tidak, ini adalah terakhir kalinya aku menyapamu lewat kata-kata. Bukan, bukan putus asa atau enggan menjejakkan kaki pada penantian, tapi kupikir berjuang sendiri pun tak ada guna. Kamu harus tau satu hal, banyak rencana-rencana yang tanpa sadar telah kuangankan denganmu sebelumnya, tapi itu hancur beberapa waktu lalu. Kalau dengan melepaskanmu adalah pembuktian, silahkan, lihat dari kejauhan.

Aku tidak akan memaksa hati untuk berjuang sendiri mempertahankan kita yang tak ingin dipertahankan lagi. Pada akhirnya, kitalah penulis yang menamati baris-baris perjalanan ini dengan pemberhentian. Tiada lagi pena yang berlanjut mengeluarkan tinta cerita. Tiada lagi lembar kosong yang menagih waktu kita untuk mendiskusikan skenario cinta. Tiada lagi mata semesta sebagai pembaca yang akan menyaksikan kisah kita. Karena mengakhiri di sini bukan berarti alarm bagi hati untuk berhenti memproduksi berlaksa rasa pada sesiapa lagi.

Nanti ada masanya dimana kita lelah mencari dan Tuhan mendatangkan objek pengisi hati lagi. Lalu sedialah masing-masing hati untuk bahagia kembali. Mungkin dengan cara ini, kita diberi jeda berlatih diri dan menghentikan letih hati sambil mendewasakan perasaan. Hingga tibalah bahagia yang akan kita jaga saat berperang melawan kecewa.

Selamat menyembuhkan hati, aku. Percayalah, bahagia itu ada meski dengan atau tanpa kita. Mungkin yang kini kita butuhkan adalah jarak, juga waktu. Jarak agar kita tak saling bertemu. Dan waktu agar kita mampu sembuhkan luka terlebih dahulu. Mencari pengganti hanyalah rencana hati. Sebab dalam dada ini, tetap hanya ada kamu terpatri, sulit kuganti. Dan setelah ini, meski aku yakin sulit bagiku untuk benar-benar pergi, namun tak mungkin untuk kembali lagi.

Kamu pernah menjadi tujuan akhir yang ternyata harus diakhiri. Kamu pernah menjadi penghapus luka yang akhirnya mencipta duka. Kuberdoa pada semesta, agar ini hanya jalan dariNya menuju bahagia; bukan hanya sebuah rencana yang tak berakhir dengan semestinya. Selepas habis  semua ini, Tuhan, mohon ajarkan aku memberi cinta dengan bijaksana.

Baik-baiklah di sana, kalau takdir kita tidak berakhir di garis yang sama, pastikan kenangan telah kau abadikan dalam cawan ketidakabadian.

    sebab sepasang hati yang telah memutuskan jalannya sendiri-sendiri, akan sulit dipersatukan kembali. tak peduli meski cinta masih tersisa di dalam hati

Puisi - Selamat Ulang Tahun

SELAMAT ULANG TAHUN "AKU" 


Tak serupa kue ulang tahun, manisnya hidup tak mungkin hanya datang setahun sekali, kecuali aku lupa caranya mensyukuri dan tak menyadari bahwa Tuhan selalu pandai memberi.

Semoga panjang umur dan sehat selalu.

Semoga semakin pintar menjaga ikatan agar tak hancur serta dimudahkan melupakan yang sudah berlalu.

Di bawah terik bahagiaku nanti, ada sedih yang bersiap-siap menaungi. Maka pada akhirnya, aku pun akan menyadari bahwa usia bukan hanya soal angka. Ini soal bagaimana menjadi dewasa. juga bagaimana menerima bahwa segalanya hanya bersifat sementara, meski aku tetap harus mencoba bertahan untuk waktu yang lama.

Sekiranya ucapan ialah doa, maka biar aku ucapkan hal-hal yang baik saja. Mimpi-mimpi dan khayalan yang belum sempat dimiliki, misalnya. Bahkan ternyata itupun tak cukup, terlalu banyak harapan yang kemudian bila diracaukan takkan cukup mengisi sebuah buku yang kosong.Terima Kasih dan Syukurku Kepada-MU, KAU masih memberikan kepercayaan dan tanggung jawab umur selama ini. mudah-mudahan, di sisa umur yang KAU berikan, semuanya bisa lebih dari yang aku harapkan...Amin


(E.K)

Saturday, February 7, 2015

Puisi - Harap Sua

 HARAP SUA

http://fikrihmd.blogspot.com/


Kedua kaki sudah siap untuk melangkah pergi. Kubungkus ekspektasi dengan sangat rapi, hingga mereka tak akan bisa terbang yang terlalu tinggi. Degup resah yang akhir-akhir ini sempat tak terdengar lagi, perlahan tampak tanpa kendali. Entah apa yang akan semesta suguhkan; sebuah pertemuan atau hanya semburat kekecewaan.

Sabar, hati. Aku berujar pada pantulan cermin sendiri—seolah dengan mengucapnya mampu redakan dentuman debar. Ada seorang anak kecil di dalam aku yang sudah tak sabar—seolah bertemu denganmu sama manisnya seperti gula-gula ukuran besar. Ada seorang dewasa di dalam aku yang tak henti mengingatkan—hati-hati, terkadang keinginan hanya mampu terwujud dalam khayalan. Berharap kau di seberang sana resah akibat rasa yang sama. Berharap kamu di seberang sana bertanya-tanya perihal ketidakpastian yang sama. Apakah kita bertemu memang untuk bersatu? Ataukah kita bertemu hanya agar luka mendapat jalannya yang baru?

Sepenuh hati aku mengumpulkan buruknya kemungkinan agar tak terbiasa dengan khayalan tanpa tanda-tanda kenyataan. Pada sepetak lantai di mana kita pernah menjejak, aku berharap di titik yang sama akan mendengar derap langkahmu semakin mendekat. Di selembar angan-angan kosong aku mengajari hati bagaimana caranya agar tidak perlu berdetak terlalu cepat. Tapi, tampaknya akan percuma. Sebab kau saat ini sudah berada di depan mata. Tanpa mulut yang terbuka, lambaian tangan di udara, kita bertegur sapa secara maya. Tak apa semesta, aku sudah cukup bahagia.

Memang lebih baik berharap tak terlalu tinggi, agar ketika semesta memberi yang berlebih, yang muncul hanya bahagia di hati. Maka ketika mata menatap mata, ada yang jatuh tak terduga—hati kita. Rasa yang semula kukira saling menolak, kini ternyata saling memihak. Tak sia-sia setiap lafal doa. Sepertinya benar, pada pintu di dadamu, mereka melabuhkan asa.

Puisi - Teka Teki Kita

TEKA TEKI KITA


http://fikrihmd.blogspot.com/p/blog-page_6.html


UNTUK KITA YANG KADANG SELALU LUPA MAKNA BERSAMA....
Entah apa rencana Tuhan, mempertemukan kita yang berbeda, kemudian diberi kesempatan untuk bersama. Sebab yang kutahu, kebetulan itu tak pernah ada. Maksud tersembunyi apa yang kiranya Tuhan titipkan pada semesta?

Menjadi yang berbeda pada kenyataannya tak semudah yang mereka katakan. Selalu ada ego yang harus ditahan. Selalu ada toleransi yang berharap tak pernah dipaksakan. Selalu ada sakit terselip pada setiap pertanyaan dari yang meragukan. Namun, seringkali semua bisa dikalahkan, sebab selalu ada KEBERSAMAAN yang memaksa hati agar tetap mempertahankan.

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Semua orang juga tahu itu. Meski sedikit dari mereka yang benar-benar mengetahui bimbangnya hati ini. Aku dan kita ingin terus bertahan, namun keyakinan kita tak pernah bisa sejalan. Aku dan kita ingin terus membina hubungan, namun restu dari semuanya kadang telalu sulit didapatkan.



 
Mengapa kiranya hati tak pandai memilih tujuan, ketika pada akhirnya, kebersamaan hanya bisa setengah jalan?

Sementara pada setiap pertemuan, ada air mata yang ku tabung diam-diam. Ditabung sedikit demi sedikit, sampai tersenyum pun terkadang rasanya sakit. Aku hanya takut, di suatu hari di masa depan, hanya kenangan ini saja yang ku punya dalam ingatan, sedangkan kalian tidak ada dalam genggaman.

Sebab itu, kunikmati setiap kehadiran, ku resapi setiap celotehan, ku hitung baik-baik setiap kecupan. Aku tak pernah ingin kita berakhir, namun sayangnya, akupun tak punya jalan keluar ketika perpisahan kelak hadir.

Aku mencintai kalian, mencintai kita. Akupun mencintai Tuhan, keluarga, serta diriku sendiri. Pada akhirnya, semoga Tuhan memberi kita kesempatan seluas-luasnya untuk terus bersama, tanpa sedikit pun mengundang perpisahan diantaranya. Entah bagaimanapun caranya.

Dan jika memang harus berpisah, semoga saat itu hati kita berdua sudah lebih dari siap untuk menghadapinya. Semoga saja.



"jika Tuhan mampu membuat kebetulan-kebetulan yang berujung pada pertemuan, maka Tuhan pasti juga mampu membuat keajaiban-keajaiban yang kelak membuat kita tak bertemu di titik perpisahan. bukankah begitu?".

Puisi - Terbiasa sendiri

 TERBIASA SENDIRI

fikrihmd.blogspot.com



Kepada sendiri yang telah sekian lama menemani, masih sanggupkah meski tak banyak lagi asupan peduli? Ketika sepasang mata sibuk disuguhkan berpasang yang beriringan, masih inginkah bertahan?


Tak akan sering kau temui ucapan di awal hari, maupun menjelang malam. Tak akan kau rasakan pengisi di sela-sela jemari, walaupun di kala ingin. Dan tak akan ada juga hati yang bisa membuatmu sedih hingga sakit—terjatuh. Tak akan ada, sebab teman seperjalananmu hanyalah dirimu sendiri.

Di kanan-kiri, semua berkata agar sesegera mungkin membuka hati. Namun percuma hati dibuka selebar-lebarnya, namun yang mengetuk pun hampir tak ku hiraukan suaranya. Barangkali, inilah risiko dari kata ‘terbiasa’. Terbiasa sendiri itu baik, tapi terbiasa dengan kesendirian? Tak pernah baik.

Sesuatu yang sudah lama dibiarkan kosong, kini seakan terlalu hambar untuk diisi. Aku masih gagal menemukan potongan hati yang tepat agar kurasa aku lengkap. Aku masih gagal menghapus anggapan bahwa cinta yang kelak datang, hanya bertugas untuk membuat luka semakin lapang. Aku masih gagal memaafkan sesuatu di masa lalu yang kita sebut sebagai perjuangan—ketika aku kamu tinggal bertahan sendirian.

Tak pernah aku berniat menyesali apa-apa. Sebab menyesal pun percuma, bukan? Memangnya bisa membuatku merasa utuh seperti sedia kala? Aku tahu jawabannya hanya ‘tidak’. Justru sebaiknya aku biasa saja, sebab bahagia yang berlimpah-limpah tak perlu untuk kubagi. Semestinya aku syukuri saja, ketika senyuman tak lagi setengah-setengah. Meski kadang ada rasa rindu untuk dirindukan, ada keinginan untuk diinginkan. Namun, mungkin memang belum pada saatnya, kesendirianku belum sampai akhirnya. Yang aku percaya, separuh bagianku akan sampai bertepatan dengan waktu. Yang aku yakini, pelengkap hari-hariku tak akan dibiarkan tersasar begitu lama ketika sedang menuju.

Barangkali inilah waktunya aku belajar bersabar. Bahwa detik-detik kesendirian ini kelak terbayar lunas oleh bahagia yang sepadan. Aku tahu Tuhan selalu mendengar doa-doa, Dia hanya butuh waktu yang tepat untuk mengabulkannya. Yang aku yakini, bagaimanapun juga, rencana Tuhan selalu lebih indah daripada rencana terindah yang kutulis sendiri. Yang aku percaya, untuk mendapatkan yang terbaik bukanlah dengan mencari; melainkan menjadi yang terbaik. Kesendirian ini bagai waktu luang bagi hatiku membangun dirinya sendiri, agar layak mendapatkan kamu—yang terbaik dari Tuhan untukku.

Tunggu aku di masa mendatang, ya. Mari bersepakat menjatuhkan hati agar limbung bersama-sama. Mari bersepakat membangun cinta yang baik dan dewasa.


by : (E.K)

Puisi - Malam Dan Cahaya

"MALAM DAN CAHAYA"

Puisi


Malam mencintai cahaya yang selalu membawa kehangatan, Namun malam tidak paham bagaimana caranya agar dapat merebut hati cahaya. Malam meminta bulan menemaninya agar saat bertemu cahaya ada sedikit hiasan yang mampu menampakkan malam, Namun bulan tidak mampu membuat malam berarti, ia langsung hilang seketika saat cahaya tiba, menyisakan bulan yang enggan hilang...

Kemudian malam meminta bantuan planet, kilaunya menimbulkan beberapa titik indah, Namun saat cahaya tiba ternyata kilau planet yang tersisa hanya bintang kejora yang sesekali tampak. Malam kemudian memohon kepada bintang-bintang untuk menemaninya, kilaunya gemerlap, menambah semarak malam, menghilangkan kelam. Namun sayangnya cahaya selalu hadir tiba-tiba, dan tanpa aba-aba malam kembali hilang seketika, menyisakan pendar bintang yang redup di angkasa. Malam kemudian pergi, ia mendatangi matahari agar datang dan pergi tidak buru-buru sekali saja supaya malam dapat menampakkan diri dihadapan cahaya. Matahari menyanggupinya...

Benar rupanya, hari itu saat pergantian hari, matahari hadir dan pergi pelan-pelan. Malam tampak, cahaya gelap keemasan itu mampu membuat cahaya melihatnya...


"Aku adalah malam, temanku bulan, bintang dan makhluk berkilau lainnya. Aku mencintaimu cahaya." kata malam..


"Aku adalah cahaya, hadirku saat pagi hingga sore menjelang. Temanku hanya matahari. Bagaimana mungkin kamu mencintaiku, kamu tahu benar apa resiko jika kita bersama bukan?" Cahaya menjawab.


"Aku tahu, mungkin aku akan lenyap karena pendarmu yang begitu benderang. Tapi tak mengapa, aku siap untuk mencintai dan lenyap olehmu."


"Tidak mungkin malam, jika kita bersama kita hanya akan saling memakan. Bukankah cinta sebaiknya bertumbuh kembang dan saling mendamaikan?"


"Tapi cahaya… menyaksikanmu tanpa dapat memilikimu itu menyiksa, aku bahkan sudah lenyap saat hanya mampu melihat tapi tidak bersama. Jika aku harus lenyap dalam cinta maka ijinkan aku melebur denganmu dan tiada."


"Tidak ada cinta yang akan saling melenyapkan malam, itu hanya akan menyimpulkan luka bagi salah satu diantara kita. Aku minta, relakan segalanya. Kita tetap akan bertemu saat pergantian hari tiba, tapi kita tercipta bukan untuk bersama. Sama bukan berarti harus bersama bukan? Berdampingan bukan berarti harus bergandengan tangan bukan?"


Matahari iba, ia buru-buru menghilang. Cahaya hilang. Malam kembali kelam, bersama bintang dan bulan dan planet yang sesekali berkilau. Sejak itu, matahari berjanji untuk selalu hadir dan hilang pelan-pelan agar cahaya dan malam dapat saling berdampingan, menghadirkan warna keemasan yang indahnya tidak tergantikan.


Fajar...Senja...


Benar rupanya, berdampingan tidak selalu bergenggaman tangan.....

by:  (E.K)

Puisi - Asa Tertahan Keadaan

"ASA TERTAHAN KEADAAN"




"Jika cinta itu berasal dari Tuhan, mengapa ada sebutan “Cinta Terlarang?" Bukankah Dialah Sang Cinta itu sendiri? Apakah karena begitu berkuasa-Nya, Dia sanggup melarang Dirinya sendiri selaku Tuhan para manusia? Jika ada cinta terlarang. lalu apakah ada Tuhan yang lain, seperti tuhan yang terlarang?"


Sebenarnya keringat dan air mata telah berkali-kali tumpah, ada sisa-sisanya mengering dan mengerak di pelupuk mata atau puing-puing luka yang tertinggal serupa tunggul-tunggul kayu yang bermunculan setelah banjir surut. Aku dan kau mungkin tahu ini bukan keinginan yang tak tertolak ini hanya tentang aku yang tak mampu mengusir dia demimu. Dia ada, di dada, ya di sini, ku tunjuk dadaku....


Lalu bagaimana aku memberitahumu tentangnya? Meski mati, pusaranya ada di sini, ku tunjuk kepalaku. Lalu di tengah malam dia sering terbangun, membangunkanku mengajakku terbang ke awang-awang tanpa puncak. Kau dimana? aku mencarimu selama ini. Bahkan, Pelukmu aku telah lupa hangatnya. Ciummu telah tergantikan bekasnya, rindumu ternyata tak bisa membumihanguskan hadirnya...

(E.K)

About

                          Tentang

blog ini  saya buat untuk menyajikan informasi untuk semua kalangan (lintas usia kecuali balita ).Sebagian dari informasi-informasi yang disuguhkan di situs ini tentunya menyampaikan dari berbagai sumber yang saya satukan menjadi sebuah konten sebagai persembahan blog ini untuk para pengunjung. Saya selalu berusaha untuk menyajikan informasi seakurat mungkin, akantetapi saya tidak dapat menjamin kebenaran dan keakuratan informasi yang saya sajikan di blog ini.

Informasi - Informasi  yang saya sajikan di blog ini, tujuannya tidak lain hanya sekedar shering tentang ilmu pengetahuan seperti karya karya tulis ilmiah,Puisi, kata Kata, Artikel dan lain sebagainya yang memang tadinya berawal dari tumpukan folder tugas tugas kuliah saya sendiri yang memang ingin sekali saya sher terhadap publik untuk sekedar berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan.

Friday, February 6, 2015

Artikel Ilmiah tentang Teori sistem dalam kebijakan publik

TEORI SISTEM DALAM KEBIJAKAN PUBLIK

Amir
  • Keilmuan harus menciptakan sistem yang bermanfaat
  • Keilmuan harus terus dinamis tidak statis
  • Teori adalah koseptualisasi atau penjelasan logis dan empiris tentang suatu fenomena
  • Sistem adalah seperangkat hal-hal yang berhubungan satu sama lain membentuk suatu keseluruhan
  • Proses divergensi dan diperensiasi
  • Proses yang menyebar
  • Pikiran ulang
  • Fokus kebijakan publik adalah apa yang menjadi pembahasan penting dalam mempelajari ilmu kebijakan publik
  • Lokus adalah tempat yang menggambarkan dimana ilmu tersebut berada
  • Manusia berpikir tampa henti
  • Amajam/pencampuran akan menghasilkan jat baru
  • Kebijakan publik ketika ditambah ilmu lain Supaya pertimbangan-pertimbangannya menjadi lengkap
  • Kebijakan publik menjadi ilmu menjadi ilmu yang mandiri
  • Pengetahuan-pengetahuan menjadi teori dan teori-teori menjadi ilmu

by : M.Rijal Amirullah

Lirik dan Chord Indonesia pusaka

    F 
Indonesia tanah air beta 
    Dm  Gm         C 
Pusaka abadi nan jaya 
    F                A# 
Indonesia sejak dulu kala 
      F   C           F 
Slalu dipuja-puja bangsa 


Di sana tempat lahir beta 
    Am               Dm 
Dibuai dibesarkan bunda 
       A#                 F 
Tempat berlindung di hari tua 
       C               F 
Sampai akhir menutup mata

Lirik dan Chord Maju tak gentar


Maju tak gentar 
   F           C 
Membela yang benar 
Dm 
Maju tak gentar 
    G        
Hak kita diserang 


Maju serentak 
  F           C 
Mengusir penyerang 
Dm 
Maju serentak 
    G        C  
Tentu kita menang 

     F 
Bergerak bergerak, 
     C 
Serentak serentak 
     G                C 
Menerkam menerjang terjang 
       F 
Tak gentar tak gentar,  
     C 
Menyerang menyerang 
    G             C 
Majulah majulah menang

Lirik dan Chord Lagu Gugur Bunga

Gugur Bunga

Am      F         Am
Betapa hatiku takkan pilu
G           F         Am
Telah gugur   pahlawanku
Dm       G         C
Betapa hatiku takkan sedih
G       G/F#    G   E7
Hamba ditinggal sendiri
    Am         F    Am
Siapakah kini plipur lara
    G          F    Am
Nan setia   dan perwira
     Dm        G      C
Siapakah kini pahlawan hati
     G          C
Pembela bangsa sejati

Reff 
       G         C
Telah gugur pahlawanku
       G     F       C
Tunai sudah janji bakti
       G             C
Gugur satu tumbuh sribu
       G     F     C
Tanah air jaya sakti

Lirik dan Chord Indonesia raya

Tanah Airku



C
Indonesia tanah airku
G
Tanah tumpah darahku
G
Disanalah aku berdiri
C
Jadi pandu ibuku
C
Indonesia kebangsaanku
C7 F
Bangsa dan Tanah Airku
Dm C
Marilah kita berseru
G C
Indonesia bersatu
F
Hiduplah tanahku
C
Hiduplah negriku
G G7 C C7
Bangsaku Rakyatku semuanya
F
Bangunlah jiwanya
C
Bangunlah badannya
G C C7
Untuk Indonesia Raya
F
Indonesia Raya
C Am
Merdeka Merdeka
Dm G C C7
Tanahku negriku yang kucinta
F
Indonesia Raya
C Am
Merdeka Merdeka
Dm G C
Hiduplah Indonesia Raya

Lirik dan Chord Bangun Pemuda Pemudi

Pemudi

G      C       D     G
Bangun pemudi pemuda Indonesia
G      A               D              
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
D      D7         G                 D
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
G       C            G     A    B
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
G       C         G    D     G
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

G     C        D             G
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
G       A               D    
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
D       D7         G             D
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
G       C                G     A    B
Bertingkah laku halus hai putra negri
G     C               G    D     G
Bertingkah laku halus hai putra negri

Puisi Renungan Malam - Dosakah Aku



DOSAKAH AKU

Dosakah Aku


Kusadari...
kau adalah ratu bidadari
Mampu gejolakan lantar rasaku
Bekukan logika hamparan kepalaku

Kusadari...
Kau itu rembjulan alam surga Ilahi
Sanggup buatkan indra ragaku
Bayanganmu mampu gelapkan gerak langkahku

Kusadari...
Ada rasa itu bukan imaji
Keyakinan pudar terbagi dari iman ku
Penyakit asmara tersebar didalam hatiku

Kusadari...
Hanya Tuhanlah cerita sejati
Pemberi taubat martabat gerak hidupku
Namun aku lalai dalam itu
Dosakah Aku..

Puisi Renungan Malam - ini



INI

Puisi Renungan Malam

Ini...
Kisah penuh drama
Berlalu seperti sekenario
Berjalan dengan aba aba sutradara
Menatap kedepan agar nampak indah video

Ini...
Kisah tak nyata
Hanyalah sebuah polesan
Dengan ujung telunjuk penyearahnya
Kekiri kanan depan belakang  tak tentu bagaimana

Ini...
Inginnya sih aku lari
Keluar belenggu meraih mentari
Namun daya tak ada merintih hanya akan lama saja

Ini...
Bintang tinggi
Membayangi di depan
Kuasaku apa?
Paling juga nanti ada celotehan

Yah...
Biarkanlah sudah
Terima pasrah
Terus ikuti intruksi
Berharap nanti penuh permadani

Puisi Renungan Malam - Menungu Karunia


 


Penerang hari mulai menjauh
Melewati peristiwa benderang dunia
Menjadi ganti ke kepada alam gelap
Bersama titik sinar kunang – kunang penggantinya

Kebiasaan keras beralih mudah
Gerombolan berbaur menjadi perseorangan
Mematikan sedikit badan dari pekerjaan
Perkerjaan dari hari kehari yang terus membelit

Tapi....
Sukar dirasa apalagi terbayang
Dari semua beban raga yang melanda
Tak kunjung hari ada satu cerita bahagia

Maha mulya pemilik surga
Mengapa kau timpa terus dan terus
Sampai saatnya ini ku tetap ini
Tak ku dapat genggaman impian itu

Tapi....
Ah... Marahpun tak berarti
Mengeluh orang mana mau bantu
Baikan saja begini
Mengalah....
Pasrah....
Tetap...
Bersimpuh teguh menanti tuhan turunkan bidadari.

Wednesday, February 4, 2015

Jangan Pernah Meninggalkan Sejarah

Sekilas Tentang   Sejarah Presiden RI ke 1.

bung karno
Presiden RI ke-1
Dalam perjuangan mengusir imperialis dan kolonialis , bung karno pun sering berkeliling dunia untuk mengajak semua bangsa yang ingin merdeka, untuk mengajak negara negara anti penjajah .
Berikut negara dan kota kota yang prrnah di kunjungi bung karno :


1. Kamboja21. Jalta41. Lebanon
2. Brazil22. Italia42. India
3. ghana23. Yugoslavia43. Saudi Arabia
4. Jepang24. Thailand44. Filipina
5. Maroko25. Pakistan45. Singapore
6. Hongaria26. Bahrain46. Vietnam
7. Romania27. Turkey47. China
8. Tunisia28. Swedia48. Korea
9. Hawaii29. Polandia49. Mongoli
10. bulgaria30. Denmark50. Ethiopia
11. Mesir31. Ceylon51. Sinegal
12. Australia32. Ecuador52. Prancis
13. Irak33. Bolivia53. Iceland
14. Amerika34. Afganistan54. Swis
15. Kuba35. Siria55. Peru
16. Portugal36. Cekoslovia56. Venezuela
17. Puerto Rico37. Guinea57. Costa Rika
18. Mexico38. Uruguay58. Panama
19. Argentina39. Bangladesh59. Jerman
20. Uni Soviet40. Burma60. Kanada.

Berikut negara dan kota yang pernah dilunjungi Bungkarno dengan misi untuk mengajak negara negara tersebut bangkit dan mendeklarasikan bahwa negara tersebut negara yang anti penjajahan.
Untuk lebih lengkapnta kagi silajkan baca buku karangan HMANGIL MARTOWIDJOJO yang berjudul Kesaksian Tentang BUNGKARNO. halaman 493 .
Penerbit : PT GRAMEFIA WIDIASATANA INDONESIA ,JAKARTA, 1999.
terimakasih semoga bermanfaat